RD.Philipisp Pilich
Pastor Paroki St. Simon Petrus Tarus- Kupang
Berdasarkan pengertian ini, dapat diartikan juga bahwa manusia memiliki kehendak bebas untuk menentukan masa depan dan tujuan arah hidipnya dengan menggunakan suara hati. Oleh karena itu,tidak bisa dipungkiri bahwa setiap orang diciptakan dengan pikiran, kehendak,keinginan yang berbeda- beda atau dengan kata lain setiap orang diciptakan secara unik. Dengan demikian, kehidupan dari setiap orang tidak dapat diketahui oleh orang lain atau sangat baik apa yang dikatakan kata bijak bahwa hidup ini penuh dengan misteri. Misteri berarti sesuatu yg belum jelas, masih tanda tanya, belum terbuka rahasianya.
Brhubung dengan itu, permulaan perjalanan panggilan untuk menjadi seorang calon imam pertama-tama datang dari Yesus sendiri.Selain Yesus sebagai pemeran utama, ada juga pemeran- pemeran pendukung yang turut bekerja dalam perjalanan panggilan seorang calon imam. Pemeran pendukung itu tidak jauh dari kehidupan seorang calo imam, ia selalu dekat dengannya dan selalu ada disaat sang seminaris membutuhkan, selalu mengajarinua untuk melakukan yang baik dan menghindari yang jahat. Bahksn lebih dari itu, ia juga memperjuangkan kehidupan sang seminaris antara hidup dan mati. Kita boleh menyebutnya sebagai malaikat pelindung. jika dilihat, terdapat dua tokoh penting dalam perjalanan panggilan untuk menjadi seorang imam yakni Kristus sendiri sebagai pemeran yang selalu menjadi batu penjuru setiap pribadi yang sedang menapaki panggilan sucinya. Pemeran pendukung atau malaikat pelindung yang menjadi bagian dari perjalanan panggilan seorang seminaris adalah orang tua yang menguatkan dan memberi dorongan, semangat kepada pribadi sang seminaris untuk memilih jalan yang indah ini.
Demikian sekilas pengalaman menjalani panggilan untuk menjadi seorang imam bahwa bukan hanya usaha pribadi tetapi ada campur tangan Tuhan dan orang tua dalam mengapai cita- cita seorang terpanggil khusus. Hal ini juga mau membuktikan bahwa pengalaman kita tidak sama, karena usia hidup dan panggilan berbeda. Dan yang lebih penting bahwa pengalaman hidup setiap orang bersama Tuhan yang diimaninya adalah unik. Keunikan ini akan memperkarya satu dengan yang lain untuk mengambil keputusan menuju masa depan yang lebih cerah (madecer).
Dari ulasan singkat di atas kita dapat katakan bahwa pengalaman panggilan sebagai seorang calon imam tentu tidak lepas dari ajakan, undangan, dan perintah untuk datang dan tinggal bersama Dia yang mengundang, yaitu Yesus Kristus, sahabat, guru, dan Tuhan kita bukan yang lain- lain. Panggilan merupakan menghayatan hidup ini bersama Allah.
Santo Yohanes Paulus, dalam surat Apostolik: Nova Millennio Ineunte, pada awal millennium baru (6 januari 2001), menyatakan: mengenangkan masa lalu dengan penuh syukur, menghayati masa sekarang dengan penuh entusiasme,dan menatap masa sekarang dengan penuh keyakinan. Tinggal bersama Tuhan menjadi pola hidup para terpaanggil. Hal ini sangat penting karena meningkat profesi kita sebagai pribadi- pribadi yang bergelut dengan iman. Anggapan orang banyak, kita ini orang beriman.
Beriman di sini dimengerti sebagai membangun sikap dalam hubungan manusia dengan Allah.Arti kata sendiri menunjukkan sikap bertumpu pada pengalaman ilahi, atau menyerahkan diri pada Allah. Iman kepada Allah menuntun hidupnya sebagai orang beriman, dalam pergulatan dan perjuangan, membentuk karakter pribadi, mencari identitas diri, dan dalam berinteraksi dengan orang lain/masyarakat. Kalau dihubungkan dengan panggilan hidup sebagai religius, kita bisa mencontoh cara orang menangkap kehendak Allah, sehingga bisa mengambil keputusan bahwa pilihan hidupnyalah yang terbaik dan cocok untuk hidupnya. Panggilan sebagai imam merupakan panggilan Tuhan bukan berkat inisiatif kita sndiri, meskipun kita menjawabnya ” Ya” dengan sadar dan bertanggungjawab. Mungkin kita tidak mengerti dengan pasti kapan persisnya, ajakan itu dan dengan sangat antusias menjawabnya, panggilan itu terjadi.
Namun perlu disadari bahwa inisiatif Allah terungkap dalam sabda Yesus pada perjamuan malam terakhir, ketika ia menyatakan kepada para murid: ” bukan kamu yang memilih Aku, melainkan Akulah yang telah memilihmu,”( bdk.Yoh.15:16). Panggilan seperti ini berlaku bagi setiap pengikut Kristus. Panggilan ini bukan menjadi pilihan hidup, namun setiap orang yang sanggup mengatakan ” Ya” terkena dampak atas komitmennya. Berani menanggung resiko sepanjang hayat atas kesanggupannya.
John Dunne menggambarkan resiko panggilan itu sebagai hidup yang mendalam seperti kedasyatan aliran sir di dasar lauta yang mampu bergerak berlawanan arah dengan arus ombak di permukaannya yang bergulung, berbuih, bergemuruh menuju pantai dan pecah.
Dalam kehidupan sehari-hari kedalaman hidup itu diungkapkan dengan:” Hidup dalam ritme kedalaman adalah meninggalkan kegembiraan semua; meninggalkan kesenangan, baik pada masa kanak- kanak, pada masa remaja, pada masa mudah dan pada masa tua. Hidup mendalam berarti memasukkan diri dalam kedalaman hidup dengan acuan, yaitu terang Kristus.” Dari sini, kepada mereka yang memilih jalan suci itu tidak boleh menyesal karena saya yakin dan percaya bahwa apa yang Tuhan kehendaki bagi diri orang- orangnya yang ia panggil akan indah pada waktunya.