Sr.Lenchy Meo,AHKYB
Sore yang teduh. Saya bersama seorang Suster Natalina, AHKYB melangkah melintasi kawasan terminal bus Noelbaki menuju sebuah rumah yang sederhana namun apik tertata rapi. Selama perjalanan kami berpapasan dengan banyak orang dalam profesi dengan aktifitasnya masing-masing. Ada yang sedang menggembur tanah, memindahkan sapi, menyemaikan bibit sayur kangkung, memotong batang padi yang telah kering, menyiram tanaman. Beberapa yang lain fuduk bercerita sambil menikmati keceriaan yang asyik berkejaran dan berlari.
Kamipun disapa ramah dengan senyuman tulus. “Buo tarde madre, madre sira atu ba nebe? Sapaan khas mereka. Sangat terasa besarnya rasa hormat dan sikap menghargai mereka bagi kaum berjubah. Penduduk di daerah sekitar terminal Noelbaki adalah para warga baru asal Timor Leste yang telah membaur dengan penduduk asli. Mata pencaharian mereka sebagian besar adalah petani sayur, petani sawah garapan, ada beberapa yang melaut sebagai nelayan dan ada juga memiliki pekerjaan lain. Beberapa anak mudah di daerah ini telah mendapat gelar serjana di berbagai bidang dan ada yang masih dibangku sekolah. Penduduk wilayah kawasan terminal ini bermayoritas katholik.
Melintas dalam sunguhan pemandangan sayur yang hijau, akhirnya kami tiba di rumah yang apik, tertata rapi, sejuk dan nyaman. Di teras rumah kami menjumpai seorang bapak yang sedang duduk santai, berbagai cerita dengan beberapa orang bapak lainnya. Kami disambut oleh seorang bapak berperawakan tinggi, berambut ombak berwarna abu-abu, dengan tatapan tajam sekaligus bersuara tegas- jelas ber-tipikal prajurit TNI. Heran dan sungkan terpancar dari wajah dan bahasa tubuhnya. Ia mempersilahkan kami masuk dan disambut seorang ibu yang sangat ramah. Setelah menjelaskan maksud kedatangan kami, sang bapak tersenyum cerah. Akhirnya kami larut dalam perbincangan panjang, hangat dan akrab.
Adalah dia sang anak remaja berusia 15 tahun, berkarakter baik, lincah dan cerdas memohon ijin pada sang bapak untuk bersekolah frater di maumere. Sang bapak menolak dengan halus.” Sebaiknya kamu mengikuti jejak bapak menjadi anggota TNI atau POLISI ” sebab sang bapak adalah tunggal dalam keluarganya dan sang anak ini adalah yang paling cerdas di antara mereka tujuh bersaudara. Sang bapak saat itu bertugas di KORAMIL Mauponggo sehingga sang anak beserta mama dan kakak adiknyapun menetap di mauponggo mengikuti sang bapak. Sang anak remaja menuruti keinginan sang bapak, setelah menyelesaikan SD dan SMP- nya di tanah Nagekeo. Dia melanjutkan SMA di sebuah sekolah katolik di Atambua. Studinya di bangku SMA tak mengalami hambatan bahkan sang anak remaja ini tergolong dalam bilangan anak yang diperhitungkan sebab setelah tamat SMA ia berani mengikuti test STPDN yang kini lebih dikenal dengan sebutan APDN dan dia lulus. Tetapi entah mengapa, setelah itu namanya hilang tanpa diketahui enyebabnya. Sang bapak lalu menyerahkan untuk mengikuti test polisi dan sang anak menuruti saran sang bapak. Sang anak lulus test dan ketika hendak berangkat untuk melanjutkan pendidikan di Bandung namanya hilang dari daftar sehingga dinyatakan tidak lulus dan tidak bisa melanjutkan studi di Bandung. Sang bapak tak pernah putus asa memberi semangat pada anak, ia kembali menyarankan pada anak untuk mengikuti test tentara. Sang anak lulus namun lagi-lagi keberuntungan tak berpihak padanya sebab kali inipun untuk ketiga kalinya namanya hilang. Setelah gagal di TNI sang anak tetap menetap di kupang sambil terus mencari jati dirinya. Mendalami peristiwa demi peristiwa yang terjadi padanya dan mencari jawaban atas rencana Tuhan dalam hidupnya. Jawaban itu akhirnya datang tak pernah terlambat, melalui sebuah peristiwa (mimpi) yang tak terduga. Tuhan datang memanggilnya dan menegaskan bahwa sang anak harus mengikuti jalan-Nya dan ia akan selalu gagal bila tidak mengikuti panggilan Tuhan. Tuhan mengiginkan sang anak menjadi pengikutNya, pekerja di kebun anggur-Nya dan menjadi gambar atas domba-domba-Nya. Sang anakpun menjawab panggilan tersebut, ia mengikuti test masuk bersama 8 orang lainnya dan sang anak sendiri yang lulus dan kaki ini namanya tidak hilang dan tetap ada hinggasekarang. Sang anak lalu meninggalkan semuanya dan bergabung dengan keluarga besar karmel. Sang anak itu kini telah tumbuh dewasa berperawakan tinghi dan berikut sawo matang dan dia memiliki nama Pater. Agus Joni Oliveira OCD, lahir pada tanggal 2 November 1986 dari pasangan orang tua bapak Amandio Oliveira dan mama Alcina De Jesus Da Silva.
Diakon Agus adalah putra ke-4 dari7 bersaudara. Menurut penentuan kedua orang tuanya, sang Diakon memiliki karakter yang begitu berbeda dari saudara-saudarinya yang lain. Hingga kinipun walau sudah menjadi seorang diakon beliau tetap sosok yang ulet, terampil, dan rendah hati di mata kedua orang tuanya. Alangkah bangganya kita umat Paroki Santo Simon Petrus Tarus bahwa setelah perjalanan panjang Gereja kita di Tarus ini, akhirnya kita di karuniai seorang imam. Imam sulung yang akan membuka jalan bagi calon-calon imam lainnya dari paroki kita dan kita lebih berbahagia lagi karena memiliki seorang i.am seperti beliau. Dari kisah hidupnya kita dapat menyimpulkan bahwa beliau bukanlah pribadi yang cepat putus asa tetapi pribadi yang terus berjuang untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Seperti tulis beliau disuatu waktu ” perjalanan itu bukan dilakukan oleh seorang petualang yang sempurna tetapi juga yang memiliki segala kekurangan dan keterbatasan yang dilihat dari sudut berbeda, artinya keterbatasan itu bukan untuk diratap serta melemahkan semangat terus berusaha tetapi sebaliknya untuk belajar lebih rendah hati, menerima dan optimis untuk melangkah”.
Panggilan adalah sebuah misteri besar dalam hidup kita, IA datang memanggil siapa saja, kapan saja, dan dimana saja. Panggilan kadang datang melalui situasi dan peristiwa sederhana yang tidak kita duga, kadang datang melalui situasi besar yang menggoncang hati kita dan kadang lewat orang-orang panutan kita. Butuh keberanian besar dan ketulusan hati untuk menjawab panggilan Tuhan menhadi pengikut-Nya. Bila Tuhan memanggil mari kita buka hati untuk-Nya, setelah berbincang penuh hangat bersama kedua orang tuanya, kamipun pulang ditemani bintang yang bertamburan indah dilangit. Seindah panggilan kita masing-masing yang dipercayakan Tuhan untuk kita jalani.
Redaktur Pelaksana Buletin ” Suara Tabor”
penulis : Juliana soares